(sekadar gambar hiasan)
Miqdad bin ‘Amr termasuk golongan yang pertama kali masuk Islam. Beliau juga adalah orang ke tujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan seksaan dari amrah murka dan kekejaman kaum Quraisy. Keberanian dan perjuangannya di medan perang Badar akan selalu diingati oleh kaum muslimin sampai saat ini. Bahkan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini…”
Miqdad bin ‘Amr pernah tampil berbicara membakar semangat di tengah ketakutan dan kerisauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar kerana kekuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, “Ya Rasulullah… Teruslah laksanakan apa yang diperintah oleh Allah, dan kami akan bersama anda! Demi Allah kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah”, sedang kami akan mengatakan kepada Engkau, “Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu”. Demi yang telah mengutus Engkau membawa kebenaran! Seandainya Engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan…”
Kata-katanya mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan do’a yang terbaik untuk Miqdad.
Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata-mata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Beliau seorang ahli falsafah dan ahli fikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.
Diantara manifestasi falsafahnya adalah beliau tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjatuhkan keputusan atas sesuatu persoalan. Dan ini dipelajari dari Rasulullah .
Dari percakapannya dengan seorang sahabat dan seorang tabiin berikut ini, menunjukkan kemahirannya dalam berfalsafah dan ia berhak menyandang gelaran seorang ahli falsafah.
Pada suatu hari kami pergi duduk berdekatan Miqdad. Tiba-tiba lalu seorang lelaki, dan berkata kepada Miqdad, “Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah ! Demi Allah, andainya aku mampu melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan”.
Miqdad berkata, “Apa yang mendorong kamu untuk menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya? Demi Allah bukankah pada masa Rasulullah banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya di neraka jahanam…? Kenapa kamu tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kamu dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kamu sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan nabi kamu?”
Inilah suatu hikmah yang diungkapkan Miqdad, memang tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali ia dapat hidup di masa Rasulullah dan hidup bersamanya. Tetapi pandangan Miqdad tajam dan dalam, pemikirannya dapat menembus sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang sedikitpun.
Itulah pandangan Miqdad, yang memancarkan hikmah dan falsafah. Tidak diragukan lagi Miqdad memang seorang ahli falsafah dan pemikir ulung.

Comments